[REVIEW] THE GREAT GATSBY (2013)

The-Great-Gatsby3

Sutradara : Baz Luhrmann

Pemain : Leonardo DiCaprio, Tobey Maguire, Carey Mulligan, Joel Edgerton.

Komposer : Craig Armstrong

Durasi : 143 menit

Studio : Village Roadshow Pictures, Bazmark Productions, A&E Television

Distributor : Warner Bros.  Pictures

Sebuah pepatah mengatakan bahwa “Cinta itu Buta”, yap mungkin itulah yang dirasakan oleh Jay Gatsby pada film ini. Dibutakan oleh cinta lamanya, ia rela melakukan apa saja untuk meneguk kembali keindahan cinta itu. Sebuah kisah yang telah lama terbenam diharapkan mampu diangkat kembali kepermukaan olehnya. Namun, apakah ia mampu menggali kembali cinta lama itu atau malah justru terbenam ditengah-tengah harapan cintanya? Prepare for another love story, old sport.  This is it….The Great Gatsby.

The Great Gatsby sendiri adalah sebuah kisah klasik yang diangkat dari novel dengan judul yang  sama karangan F. Scott Fitzgerald yang diterbitkan pada tahun 1925. Sejumlah adapatasi dari novel ini pun telah kerap dilakukan mulai dari film, film tv hingga panggung Broadway. Kali ini, Baz Luhrmann (Australia) kembali mencoba mengangkatnya kisah cinta ini dalam film. Dalam pe-release-annya The Great Gatsby sempat mengalami penundaan dari yang dijadwalkan pada Desember 2012 hingga akhirnya menjadi 6 Agustus 2013 dan bersaing dengan deretan film musim panas lainnya. Selain itu percaturan pemain juga terjadi sebelum akhirnya Luhrmann mendapatkan aktor yang tepat. Untuk peran Daisy saja sejumlah aktris tercatat turut dipertimbangkan untuk mengisi peran tersebut seperti Amanda Seyfried, Keira Knightley hingga Michelle William. Disamping itu juga Ben Affleck yang dipersiapkan untuk peran Tom Buchanan, namun akhirnya harus keluar mengingat terikat dengan Argo, sedangkan untuk peran Gatsby dan Nick Carraway memang sudah dipersiapkan untuk Leonardo DiCaprio dan Tobey Maguire.

05

Musim panas itu, Nick Carraway (Tobey Maguire) yang bekerja sebagai seorang penjual obligasi, pindah dari Midwest ke New York. Beruntung ia bisa mendapatkan rumah di Long Island, sebuah kawasan pemukiman mewah. Tepat disebelah rumahnya, terdapat sebuah rumah megah yang didiami oleh Gatsby (Leonardo DiCaprio), seseorang yang kerap mengadakan pesta di rumah mewahnya tersebut.

Pada suatu waktu, Nick mendapatkan undangan untuk menghadiri pesta di rumah Gatsby. Merasa beruntung, ia pun menghadiri pesta tersebut. Namun sesungguhnya, Gatsby bukannya tanpa alasan mengundang Nick secara pribadi ke pesta tersebut. Ia menginginkan agar Nick mengundang sepupunya, Daisy Buchanan (Carey Mulligan) untuk menghadiri jamuan teh yang akan diadakan di rumah Nick. Status Daisy yang telah bersuamikan Tom Buchanan (Joel Edgerton) membuat Nick ragu untuk mengabulkan permintaan dari seseorang yang bahkan belum lama dikenalnya. Namun akhirnya Nick mengabulkan permintaan tersebut setelah seorang teman Daisy, Jordan Baker (Ellizabeth Debicki), memberitahunya sebuah fakta yang telah terbungkus lama antara Daisy dan Gatsby.

Jamuan teh itupun dilangsungkan, Gatsby seakan kembali melihat cinta lamanya di sosok Daisy saat ini. Hanya satu yang diinginkan Gatsby dari wanita itu, yakni kembali menerima cintanya. Namun, Daisy yang dikenalnya sekarang bukanlah yang dulu lagi, ia adalah sosok wanita yang telah bersuami. Gatsby pun tidak lantas menyerah dengan kondisi tersebut, ia telah melakukan banyak hal dan akan terus melakukan segala hal untuk kembali memenangkan hati wanita yang pernah dicintainya, termasuk mengorbankan seluruh yang dimilikinya, tanpa kecuali.

??????????????????????????????

Film yang naskahnya ditulis oleh Bazz Luhrmann dan Craig Pearce (Moulin Rouge!) ini mampu mengalir dengan mulus melalui sudut pandang Nick Carraway. Rasanya sulit untuk tidak menyukai tehnik penceritaannya yang berjalan flash-back ini. Namun sayangnya Luhrmann dan Pearce terlihat mengulur-ulur dalam pengeksekusiannya. Ketika ketegangan semakin memuncak dan adrenalin mulai terpacu kencang, mereka seakan justru kembali bermain-main dengan adegan-adegan yang sayangnya tidak memanfaatkan momentum yang sudah terbentuk sebelumnya. Disayangkan memang, seandainya saja mereka mampu memanfaatkan momentum tersebut, maka sudah dapat dipastikan pengesekusiannya akan terasa jauh lebih dramatis.

Dari jajaran department aktingnya adalah Leonardo DiCaprio (Inception), Joel Edgerton (The Odd Life of Timothy Green) yang tampil begitu bersinar. Leo, seperti biasa, mampu hadir dengan cemerlang sebagai milyuner muda dengan karisma playboy-nya, sedangkan Edgar hadir dengan karakter layaknya jutawan kaya yang selalu haus dengan wanita-wanita, sedangkan lawan main mereka Carey Mulligan (Drive) masih terlihat tampil begitu theatrical. Selain itu juga ada Elizabeth Debicki (A Few Best Men) yang tampil begitu mencuri perhatian, termasuk penampilan khusus dari aktor senior Bollywood, Amitabh Bachchan (Zamaanat) yang kharisma mega bintangnya tetap tidak bisa terbendung meskipun hadir dengan durasi yang terbatas.

Memang secara keseluruhan tidaklah sulit untuk  jatuh cinta dengan The Great Gatsby, selain didukung jajaran pemain watak, film yang hadir lebih dari 2 jam ini mampu memberikan keindahan visual yang sulit untuk tidak dikagumi. Kredit tersendiri buat tim Desain Produksi dan Penata Artistik yang telah menghadirkan latar tahun 1920-an dimana kondisi masyarakatnya masih belum stabil akibat Perang Dunia I yang baru berakhir berikut dengan detail vila mewah yang menjadi settingnya, selain itu juga sejumlah lagu bernuansa jazz yang memang mulai berkebang di awal tahun 1910-an.

Melalui film ini, Bazz Luhrmann seperti ingin mengulang “keceriaan” visual yang pernah sajikannya dalam Moulin Rouge!, terlepas dari pengeksekusiannya yang cenderung kurang memanfaat momentum yang sudah ada, The Great Gatsby telah hadir sebagai sebuah kisah cinta dan  pengorbanan yang hadir ditengah keindahan tata produksi yang sulit untuk tidak dikagumi.

3,5

the great gatsby  2013 @ garmsville 3

[REVIEW] EVIL DEAD (2013)

Evil-Dead-Wallpaper-01

Sutradara : Fede Alvarez

Pemain : Jane Levy, Shiloh Fernandez, Lou Taylor Pucci, Jessica Lucas, Elizabeth Blackmore

Komposer : Roque Baños

Durasi : 92 menit

Studio : Ghost House Pictures,  TriStar Pictures

Distributor : FilmDistrict

 Adalah sebuah keberanian yang besar ketika sineas memutuskan untuk me-remake sebuah film yang sangat dikenal dimasanya. Berani karena ia harus bersedia untuk dipuji atau malah justru dicaci atas hasil kerjanya tersebut. Terlebih bila film tersebut sudah memiliki penggemar fanatik terhadap versi aslinya, maka proses produksi film tersebut pun akan semakin “penuh” dengan tantangan. Lalu bagaimana dengan remake dari sebuah karya fenomenal Sam Raimi, Evil Dead, yang sempat dihujat namun kemudian justru mendapatkan pujian tersebut? Apakah sang sutradara, Fede Alvarez,  berhasil menaklukkannya? Atau malah justru sebaliknya? Guys, beware of the book of death, Evil Dead.

Ide me-remake Evil Dead sendiri telah muncul sejak lama oleh Raimi dan Bruce Campbell, hingga puncaknya pada tahun 2009 yang menerima tanggapan negatif dari para penggemarnya, namun akhirnya pada 2011 mereka memutuskan untuk melanjutkan proyek tersebut. Dengan memakan waktu pengambilan gambar selama 70 hari yang sebagian besar dilakukan pada malam hari, akhirnya film ini siap untuk memulai parade terornya pada South by Southwest Festival 2013 di Texas kemarin. evil-dead-the-cabin

Berniat untuk menyembuhkan ketergantungan adiknya dari narkotika, David (Shiloh Fernandez) bersama dengan teman-temannya, Eric (Lou Taylor Pucci), Olivia (Jessica Lucas) dan Natalie (Elizabeth Blackmore) membawa Mia (Jane Levy) ke sebuah pondok kayu peristirahatan di tengah hutan. Mia yang saat itu berniat untuk bersih dari masa lalunya memutuskan untuk total berhenti dari narkotika. Malam itu, semuanya tampak normal, kecuali Mia yang mulai berperilaku aneh, namun teman-temannya menganggap hal itu wajar mengingat efek samping ketergantungannya tersebut. Namun sesungguhnya apa yang dirasakan Mia benar adanya, ada sesuatu yang berbeda di pondok  tersebut.

Mencoba mengikuti keingintahuan Mia terhadap pondok tersebut, Eric dan David pun memutuskan untuk turun ke basement pondok tersebut dan setelah diperiksa ternyata apa yang dikatan Mia, benar. Mereka menemukan banyak mayat binatang yang telah mengering tergantung dilangit-langitnya, selain itu mereka juga menemukan seperangkat alat yang biasanya digunakan untuk melakukan penyiksaan. Namun apa yang mereka temukan tersebut belum apa-apa, hingga Eric menemukan sebuah buku tua yang dikenal dengan Naturom Demonto (Book of Death). Merasa penasaran dengan isi buku tersebut, Erik pun membuka dan membaca isinya. Tanpa disadarinya ternyata ia telah menyebut sebuah mantra pemanggil iblis. Iblis yang akan mengantui mereka dan tidak akan melepaskan mereka hidup-hidup dari pondok tersebut.

316261

Fede Alvarez (Panic Attack!) adalah sutradara yang beruntung itu. Meskipun belum pernah mengarahkan film panjang, namun Sam Raimi telah memberinya kepercayaan untuk me-remake sebuah karya klasiknya, Evil Dead. Berbekal beberapa film pendek yang pernah digarapnya Alvarez pun menyutradarai film ini. Bersama dengan Rodo Sayagues, yang juga menulis untuk beberapa film pendeknya, mereka  menulis naskah Evil Dead. Dengan tetap menghormati versi aslinya, mereka tetap memasukkan sejumlah detail-detail yang juga ditampilkan pada versi pendahulunya. Selain itu juga penggalian latar belakang karakter utamanya mendapatkan porsi yang cukup disajikan sehingga mampu menimbulkan empati bagi penontonnya.

Untuk urusan teknik, tidak seperti film lainnya yang banyak bergantung di kemampuan CGI (Computer Generated Imaginary) untuk menghasilkan moment-moment yang menakutkan, namun tidak halnya dengan film ini, Alvarez sendiri mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan pada film ini adalah nyata, sejumlah trik digunakan selama proses produksinya, sedangkan CGI hanya digunakan sebagai sentuhan akhir dari scene-scene tersebut. Dan hal ini terbukti, seluruh efek yang ditampilkan sepanjang presentasinya memang terlihat begitu nyata.

Dari department aktingnya, tidak seperti aktor yang biasanya bermain di film horor yang (biasanya) hanya mengandalkan ekspresi terkejut dan ketakutan sebagai akting andalannya, namun disini, adalah adalah sebuah kejutan melihat aktor-aktor yang tidak hanya bisa berteriak ketakutan tetapi juga mampu bermain baik disisi dramanya. Yap siapa lagi kalau bukan Shiloh Fernandez (Red Riding Hood) dan Jane Levy (Suburgatory). Chemistry sebagai kakak-adik yang hadir mampu mengalir dengan baik melalui akting mereka. Sedangkan sisanya, hadir seperti biasa, tidak ada yang mampu mencuri perhatian lebih.

Ok, lets wrap it up, sudah begitu lama rasanya tidak menyaksikan sebuah film horor yang tidak hanya hadir sekedar untuk menakuti-nakuti penontonnya, tetapi juga mampu hadir dengan porsi drama yang pas sekaligus teror yang tak berkesudahan, dan Evil Dead adalah salah satu dari sedikit diantaranya. Menyaksikan Evil Dead seperti menaiki sebuah roller coaster of terror, dimana tiap penontonnya naik dalam kondisi mata tertutup sehingga sulit untuk mengetahui kapan teror itu akan berakhir. 4

 326921

[REVIEW] KISAH 3 TITIK (2013)

view.php

Sutradara : Bobby Prabowo

Pemain : Lola Amaria, Ririn Ekawati, Maryam Supraba, Donny Alamsyah

Komposer : Thoersi Argeswara

Durasi : 104 menit

Studio : Lola Amaria Production

Masalah perburuhan dengan indutrinya adalah sebuah masalah yang sudah sangat mendarah daging di negeri ini. Disatu sisi, buruh dengan upah yang minim menuntut upah ataupun fasilitas yang sama dengan pegawai tetap lainnya, sedangkan disisi lain, pihak industri justru ingin memanfaatkan keuntungan upah murah tersebut untuk menekan biaya produksi. Ya, apalagi kalau ujung-ujungnya bukan perolehan laba yang besar untuk perusahaan. Ironis memang, buruh-buruh tersebut seolah diekploitasi oleh pihak industri untuk kepentingan mereka, dan permasalahan tersebut masih terus bergulir hangat hingga sekarang. But wait, we’re not talking ‘bout that things here, sebuah drama yang berlatarkan perburuhan dengan berbagai problema yang dihadapainya hadir mewarnai keragamanaan film Indonesia. Drama yang akan memotret sekelumit dari puluhan bahkan ratusan kisah buruh-buruh dibalik ekploitasi industri. Here we go, Kisah 3 Titik.

Kisah 3 Titik berpusar di 3 orang pemeran utamanya yang masing-masing bernama Titik, dengan latar belakang dan permasalahan yang berbeda, mereka adalah Titik Sulastri seorang janda, Titik Dewanti Sari yang seorang Manager SDM dan terakhir Kartika atau yang dikenal dengan Titik  tomboy, dan berikut adalah kisah mereka.

Lola Amaria_Kisah 3 Titik_Still_Head

Titik Sulastri (Ririn Ekawati) adalah seorang janda yang baru saja ditinggal suaminya karena kecelakaan ketika bekerja. Dalam kondisi hamil muda dan hidup bersama putri semata wayangnya, ia harus tetap bertahan meskipun tanpa ada tunjangan maupun santunan kematian suaminya. Guna memenuhi kebutuhan hidup, ia pun memutuskan untuk bekerja disebuah pabrik garmen dan merahasiakan kondisinya yang sedang hamil. Waktu berlalu, kandungannya semakin besar, satu hal yang pernah dirahasiakannya dulu kini tidak bisa ditutupi lagi. Kini, ditengah kebijakan perusahaan yang tidak sejalan dengan nurani, ia harus memperjuangkan haknya sebagai buruh.

Diangkat menjadi manager SDM sebuah pabrik garmen adalah sebuah pencapaian tersendiri bagi Titik Dewanti Sari (Lola Amaria) dalam karirnya. Melalui posisinya tersebut ia mempunyai kekuatan untuk memfasilitasi keinginan buruh dan perusahaan secara bersamaan. Nuraninya sebagai manusia mulai terketuk ketika melihat perlakuan yang “tidak manusiawi” yang dilakukan perusahaan kepada buruh-buruh tersebut. Serangkaian kebijakan pro buruh pun diajukannya untuk mendukung hal tersebut, namun sayang, hal tersebut ditentang oleh perusahaan. Kini, ia harus dihadapkan dalam kondisi yang sulit, apakah menuruti hati nurani untuk mendukung buruh atau justru tetap “bermain” aman agar ia tetap pada posisinya sebagai Manager SDM.

Bekerja sebagai buruh di sebuah home industry pembuatan sepatu adalah keseharian Kartika. Suatu hari, tempat ia bekerja memutuskan untuk melakukan PHK pada salah satu bagiannya dan berniat mengganti tenaga kerjanya dengan tenaga kerja harian yang lebih murah guna menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan laba. Beruntung bagi Titik, ia tidak menjadi bagian dari PHK tersebut. Namun kemudian hari ia melihat ada sesuatu yang berbeda di tempat ia bekerja. Tenaga kerja harian yang baru direkrut bukanlah tenaga kerja yang layak, mereka menggunakan tenaga kerja dibawah umur untuk bekerja dengan iming-iming imbalan uang saku. Melihat tindakan yang bertentangan dengan nuraninya, Titik pun melakukan perlawanan terhadap hal tersebut karena ia beranggapan bahwa masa anak-anak adalah masanya bermain dan belajar, bukan menjadi buruh harian yang dibayar murah. Namun sayangnya ia tidak menyadari, bahwa tindakan dilakukannya justru membahayakan dirinya dan keselamatannya.

  2-view.php

Film Kisah 3 Titik yang disutradarai oleh Bobby Prabowo ini sejatinya mengangkat tema wanita dan perjuangannya. Sebuah perjuangan yang dilakukan untuk bertahan atau mempertahankan keinginannya dengan menggunakan setting ketenagakerjaan sebagai latarnya. Dengan tehnik penceritaan secara interwoven (menggabungkan beberapa plot dan menempatkannya secara acak dalam satu timeline), kisah berpusar di ketiga tokoh Titik didalamnya. Dimana masing-masing mereka hadir dengan permasalahannya masing-masing dan berjuang untuk memperjuangkan sesuatu yang dianggap penting dalam hidupnya, seperti Titik janda yang memperjuangkan agar bisa tetap bertahan hidup bersama dengan anak semata wayangnya, kemudian Titik manager yang berjuang mempertahankan posisinya sebagai Manager SDM dan yang terakhir perjuangan Titik tomboy yang harus melawan arus menolak kebijakan tempat ia bekerja yang memperkerjakan tenaga kerja dibawah umur.

Mungkin beberapa pendapat akan mengatakan bahwa naskah yang ditulis oleh Charmanta Adjie dalam debutnya sebagai penulis naskah tersebut seperti kehilangan tujuan yang hendak disampaikannya sejak awal, namun sesungguhnya tidak ada yang kehilangan arah pada naskahnya. Justru naskah tersebut sangat fokus dengan permasalahannya tersebut. Dan yang lebih menarik lagi, film ini mampu menghadirkan klimaks yang menggambarkan sebuah ironi perjuangan yang dilakukan oleh masing-masing aktornya. Penulis tetap membiarkan film ini “terbuka” hingga akhir dan tidak menjawab permasalahannya, sehingga penonton dapat menerjemahkan sendiri maksud dari eksekusi tersebut. Keberhasilan dalam mengeksekusi film ini juga tidak terlepas dari suntingan Wawan Idati Wibowo (Sang Pialang) yang semakin memaksimalkan efek dramatisasi melalui tehnik fade in/ fade out-nya. it’s powerfull.

Dari jajaran department aktingnya, adalah Ririn Ekawati (Di Timur Matahari) yang paling terlihat mencuri perhatian melalui aktingnya sebagai janda muda. Meskipun hadir dengan tipical karakter sebagai sosok yang menderita yang umumnya hadir di banyak film, tapi ia mampu menerjemahkan karakter tersebut kedalam bentuk visual sehingga mampu menarik simpati penontonnya. Namun beda halnya dengan Lola Amaria (Minggu Pagi di Victoria Park) yang kurang dapat mengeksplor ekspresinya. Selain itu juga, film ini juga didukung aktor-aktor lain seperti Donny Alamsyah (Negeri 5 Menara), Gary Iskak (Pocong Roxy) , Lukman Sardy (Rectoverso), dan Inggrid Widjarko yang meskipun hadir dalam porsi yang terbatas namun cukup mewarnai kisah ini.

Well, meskipun film ini sempat hadir datar dan tanpa kejutan yang berarti di paruh awalnya, film yang menjadi debut perdana penyutradaraan Bobby Prabowo ini dinilai berhasil dalam mengeksekusi penceritaannya. Meskipun secara keseluruhan presentasinya tidak dapat dikatakan cemerlang, namun dapat dipastikan bahwa Kisah 3 Titik mempu menghadirkan kisah drama berkualitas yang berada diatas rata-rata film sejenisnya.

2,5

film kisah 3 titik movie www.infogaya.com still adegan banner