MAGGIE – 2015

Maggie“Sampai kapan kau akan memenuhi janjimu?”. Mungkin ini adalah pertanyaan sulit apabila dihadapkan dengan kondisi yang dialami oleh sosok Wade dalam film ini. Sebuah ironi memang, disatu sisi ia harus tetap menjaga putrinya yang telah terinfeksi virus yang akan merubahnya menjadi zombie namun di sisi lain ia mengetahui bahwa suatu saat ia harus memasukkannya ke karantina dengan sekumpulan zombie-zombie lainnya atau malah justru harus membunuh dengan tangannya sendiri. So, how far would you go to keep your promise?. Here we go, Maggie.

2 minggu sudah hingga akhirnya Wade (Arnold Schwarzenegger) menemukan anaknya, Maggie (Abigail Breslin). Abigail sendiri telah terinfeksi virus mematikan, Necroambilis, yang bisa merubah menusia menjadi zombie. Wade pun membawa pulang Maggie dari rumah sakit dan berkumpul dengan keluarga lainnya. Hari demi hari, perlahan-lahan Maggie berubah menjadi sosok lain yang bukan dirinya. Berkali-kali Sherif setempat meminta Wade agar menyerahkan Maggie ke rumah sakit untuk di karantina, namun Wade selalu menolaknya, karena ia telah berjanji kepada mantan istrinya untuk selalu menjaga Maggie. Hingga satu saat, virus tersebut telah mengambil alih seluruh tubuh Maggie, dan Wade harus dihadapkan pada pilihan sulit, memasukkan ke karantina atau membunuh Maggie dengan tangannya sendiri.

Surprise. Menyaksikan film ini seperti menonton film yang lahir dari veteran yang telah melalui banyak festival film internasional. Gaya penceritaan yang cenderung slow burn dan penggarapannya yang begitu serius membuat seolah-olah film ini lahir dari tim yang sudah malang melintang di dunia layar lebar. Sejatinya, ini adalah film panjang perdana bagi sang sutradara, Henry Hobson dan penulis naskahnya, John Scott III. Begitu juga dengan departemen tehnisnya, sinematografi yang ditangani oleh Lukas Ettlin (Battle Los Angeles) dan Jane Rizzo Gabriel di sisi penyuntingannya sangat membantu mood film ini yang cenderung kelam.

Selain itu, kekuatan berikutnya hadir dari jajaran departemen aktingnya. Baik Arnold Schwarzenegger (Terminator Genisys) dan Abigail Breslin (Perfect Sisters) benar-benar tampil total dalam perannya. Bagi Arnold sendiri, ini mungkin peran yang memerlukan pendalaman emosi yang lebih yang pernah dilakukannya dalam beberapa dekade belakangan, dan dia berhasil melakukannya. Tidak berlebihan bila dikatakan ini adalah salah satu penampilan terbaik yang pernah dimainkannya. Begitu juga dengan Abigail Breslin, yang mampu menyaingi kekuatan akting sosok Arnold.

OK, let’s wrap it up. Meskipun belum memiliki jam terbang yang tinggi, namun Henry Hobson dan John Scott III mampu menyajikan sebuah film yang mengeksplorasi hubungan ayah dan anak ini menjagi begitu intim dan dalam. Ditambah lagi dengan dukungan tim dibalik layar dan tentunya 2 kekuatan utama di departemen aktingnya, menjadikan film ini tidak seperti film zombie kebanyakan, tapi sebuah presentasi interpersonal yang tidak hanya kelam tetapi juga menghanyutkan.

3,5Sutradara : Henry Hobson

Naskah : John Scott III

Pemain : Arnold Scharzenegger, Abigail Breslin, Joel Richardson

Musik : David Wingo

Sinematografi : Lukas Attlin

Durasi : 95 menit

Studio : Grindstone Entertainment Group, Gold Star Films, Lotus Entertaiment, Matt Baer Films, Silver Reel, Sly Predator

Distribusi : Lionsgate Films, Roadside Attractions

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s