PAPER TOWNS – 2015

paper towns

Setelah kesuksesan yang berhasil diraih pada adaptasi novel John Green sebelumnya, The Fault in Our Stars, kali ini novel lain yang berkisah tentang pencarian sosok sahabat baik yang menghilang secara misterius dari pengarang yang sama kembali mendapat kesempatan yang serupa. Well, here we go, Paper Towns.

Awal perjumpaan dengan Margo, adalah hari yang berkesan bagi Quentin. Persahabatan diantara mereka pun langsung terjalin dengan mudahnya. Namun hingga menginjak remaja hubungan mereka kian berjarak, Quentin (Nat Wolff), sosok remaja yang ingin segera menyelesaikan sekolahnya dan nyaman dengan kondisinya, sedangkan Margo (Cara Delevigne) becomes a wellknown-free-spirit person. Hingga suatu hari – sehari setelah Margo dan Quentin melakukan pembalasan dendam kepada pacar dan teman-temannya – Margo menghilang. Quentin yang merasa kehilangan Margo pun mulai mengumpulkan petunjuk kemana Margo pergi. Bersama dengan teman-temanya, Quentin pun melakukan perjalanan dan menjalani pengalaman yang belum pernah ia rasakan.

Well, tidak seperti adaptasi sebelumnya a kinda tearjerker teen-melodrama, The Fault in Our Stars, film ini lebih dekat dengan kehidupan remaja sehari-hari. Persaingan, cinta, balas dendam dan sebagainya. Namun satu hal yang berbeda adalah penekanan pada tema step out of the comfort zone-nya. Quentin (yang lebih dikenal dengan panggilan “Q”) adalah remaja yang punya keingian seperti remaja kebanyakan, sekolah, kerja, menikah dan berkeluarga. Kehidupan seolah telah memilihkan jalur untuknya. sedangkan Margo, a free spirit teenage girl yang cenderung bebas, lebih berani bertindak dan penuh dengan tantangan. 2 orang yang memiliki karakter jauh bertolak belakang. Naskah yang disusun oleh Scott Neustadter dan Michael H. Weber, yang juga menulis untuk adaptasi John Green sebelum ini, berhasi menggambarkan kedua karakter tersebut. Baik pengenalan hingga pengembangan karakternya mampu diramu dengan baik sehingga memiliki kekuatan tersendiri. Namun sayang, babak ketiga dari penceritaanya seperti kehilangan arah. Pencarian panjang sosok Margo yang menempuh perjalanan berjam-jam tersebut menjadi hambar ketika disajikan dengan dialog-dialog yang kian terasa ambigu.

Disamping itu, kekuatan lainnya adalah pada Cara Delevingne (The Face of An Angel) yang berhasil membawa aura sebagai remaja yang berjiwa bebas sekaligus misterius. Begitu juga Q’s side kick, Austin Abrams dan Justice Smith yang tampil menghibur. Jangan lupakan tata musik dari Son Lux (The Disappearance of Eleanor Rigby : Him) dan pilihan soundtrack yang begitu membius disetiap scene-nya.

OK, let’s wrap it up. Sebagai adaptasi dari sebuah novel Young-Adult, film ini memiliki pesonanya, konflik, interaksi karakter, chemistry hingga pilihan musik dan soundtrack-nya, hanya saja, Paper Towns butuh lebih dari itu. It needs a straight bold line to conclude its conflict and make a big point. A blast. Bila tidak, film ini hanya akan menjadi seperti remaja kebanyakan yang penuh dengan impian semu, pencarian jati diri dan ketidakpastian yang menggantung.

2,5Sutradara : Jake Schreier

Naskah : Scott Neustadter, Michael H Weber

Pemain : Nat Wolff, Cara Delevingne, Halston Sage, Austin Abrams, Justice Smith, Jaz Sinclair.

Musik : John Debney, Son Lux

Sinematografi : David Lanzenberg

Durasi : 109 menit

Studio : Fox 2000 Pictures, Temple Hill Entertainment, TSG Entertainment

Distribusi : 20th Century Fox

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s