PAN – 2015

Pan-1 Untuk kesekian, kisah klasik karangan J.M. Barrie tentang si anak yang mampu terbang ini diadaptasi. Mulai dari layar lebar, serial televisi, sekuel, spin off hingga ke atas panggung, sedikit berbeda, kali ini justru sebuah prekuel dari kisah tersebut. Ketika ia hanyalah bocah biasa yang belum mampu terbang, sebelum ia tidak bisa menua, bahkan sebelum ia mengenal sosok musuh abadinya, Captain Hook. On board, we’re heading to Neverland. Here we go, Pan.

Kisah bermula ketika Mary (Amanda Seyfried), meninggalkan bayi lelaki mungilnya di sebuah panti. Meninggalkan sepucuk surat dan sebuah totem, Mary memberi nama bayinya, Pan. Tahun berlalu, Pan tumbuh menjadi seorang anak lelaki yang sehat, hingga suatu malam kejadian aneh terjadi, anak-anak panti secara diam-diam diculik oleh para bajak laut yang dipimpin oleh Blackbeard (Hugh Jackman), tidak terkecuali Pan. Mereka pun dibawa ke Neverland untuk dijadikan sebagai budak untuk mencari Pixum, bubuk peri yang berkhasiat membuat awet muda. Sebuah insiden terjadi yang mengakibat Pan harus dicampakkan dari ketinggian sebagai hukumannya. Namun, alih-alih terjatuh dan tewas, Pan justru terbang, dan hal tersebut mengejutkan semua orang, tidak terkecuali Blackbeard. Ia pun teringat sebuah ramalan kuno, bahwa kejayaannya akan digulingkan oleh seorang anak, seorang anak yang mampu terbang. Tidak ingin digulingkan, ia pun harus mengalahkan Pan, atau justru dirinyalah yang akan dikalahkan.

Tidak bisa dipungkiri, Pan menyajikan sebuah tontonan yang sangat menghibur, adegan aksi yang dibalut dengan CGI menjadi sajian yang memanjakan mata. Tidak hanya di akhir, sejak awal Pan sudah menaikkan sauhnya dan menggelar adegan pengejaran di atas kota London dengan begitu tegangnya. Bagi Joe Wright (Anna Karenina) tidak sulit untuk menyusun adegan demi adegan aksinya menjadi sebuah presentasi yang mengundang decak kagum. Dengan naskah yang ditulis oleh Jason Fuchs (Ice Age : Continental Drift), Pan memang tidak menampilkan sebuah kisah yang unik, honestly, justru malah cenderung biasa. Namun hal tersebut tidak menjadi masalah ketika selama 111 menit, ia mampu menghidupkan sebuah fantasi tentang Neverland ke imajinasi penontonnya.

Meskipun begitu, Pan tidak lantas hadir tanpa cela. Karakter Hook yang diperankan oleh Garreth Hedlund (Unbroken) – dengan penampilannya yang terlihat begitu Indiana Jones – sangat terganggu dengan vocalnya yang sangat terkesan diberat-beratkan. Sorry, It’s kinda annoying, tho. Selain itu juga tata musik yang diaransemen oleh John Powell, meskipun sangat energik dan melebur dengan tiap adegan-adegannya namun pada beberapa bagiannya terdengar seperti apa yang pernah dibuatnya pada film lain yang juga diaransemennya, How to Train Your Dragon.

Ok, let’s wrap it up. Sebuah kisah klasik memang layak diceritakan kembali (well, dalam hal ini memang tidak diceritakan “kembali”, melainkan di ciptakan). Kisah klasik yang membawa fantasi penontonnya ke tempat dimana penuh dengan keajaiban. Terserah kritikus luar menilai film ini buruk atau apapun sebutannya, namun satu hal yang pasti Pan berhasil membawa keajaibain dan magis-nya Neverland ke layar lebar. Well as a final words, Pan, a truly fun ride to Neverland.

3 baru-1Sutradara : Joe Wright

Naskah : Jason Fuchs

Pemain : Levi Miller, Hugh Jackman, Garrett Hedlund, Rooney Mara, Amanda Seyfried

Musik : John Powell

Sinematografi : John Mathieson, Seamus McGarvey

Durasi : 111 menit

Studio : Berlanti Productions, RatPac-Dune Entertainment

Distribusi : Warner Bros. Pictures

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s